Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Kerugian Longsor di Ambon Membengkak

Written By T Noval Ariandi on Senin, 11 Juni 2012 | 08.36

AMBON, KOMPAS.com – Korban musibah tanah longsor akibat hujan deras yang mengguyur Kota Ambon sejak akhir Mei lalu hingga kini terus bertambah. Terhitung sejak 27 Mei hingga 8 Juni 2012, bencana longsor di Kota Ambon menyebabkan 65 rumah warga rusak berat, dan 161 rusak ringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon Tjokro Broery di Ambon, Senin (11/6/2012) mengatakan, sejak 27 Mei hingga saat ini jumlah rumah warga yang mengalami kerusakan akibat bencana banjir dan tanah longsor sudah mencapai 226 unit.  “Kalau 27 Mei lalu, rumah rusak berat 26 unit dan sekarang sudah 65. Untuk rusak ringan 73 unit, sekarang sudah bertambah menjadi 161 unit,” kata Broery.

Broery mengatakan, bencana alam berupa banjir dan longsor terjadi di sejumlah kecamatan di Kota Ambon yakni Kecamatan Nusaniwe, Sirimau, Kecamatan Baguala dan Kecamatan Leitimur Selatan. Akibat banjir dan tanah longsor yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini sebanyak 26 Kepala Keluarga (KK) harus mengungsi di sejumlah tempat yang dianggap aman.

Sebagian warga hingga kini masih mengungsi di rumah ibadah dan juga Kantor Pemerintahan. “Dari 26 KK yang telah mengungsi 16 KK mengungsi di Kantor Camat Teluk Ambon Baguala, dan empat KK di Masjid Passo. Sementara 3 KK di Bere-bere, satu KK di Kelurahan Kudamati dan tiga KK di Urimesing mengungsi ke keluarga terdekat,” ucapnya.

Selain itu, Broery juga menyatakan, ada beberapa jembatan di Kota Ambon yang nyaris putus akibat pengikisan air oleh derasnya banjir yang terjadi beberapa hari kemarin. “Jembatan beton Wai Nener Amahusu dan jembatan Baja Wai Batu Gajah terancam putus. Sedangkan Talud sungai Wai Batu Gajah PLN sepanjang 30 meter dan talud sungai Wai Batu Gajah di samping kantor lurah juga roboh,” ungkap Broery.[]

Air Hujan Warna Merah Hebohkan Warga

Written By T Noval Ariandi on Minggu, 10 Juni 2012 | 03.21

SERAMBINEWS.COM, TAPAKTUAN – Warga masyarakat Dusun Pasi Tuan Ilang, Desa Desa Sawang I Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, Minggu (10/5/2012) dini hari, sekira pukul 05.30 WIB, dikejutkan dengan turunnya air hujan berwarna merah di rumah Tgk Muyus (50) dan Tgk Samdani (47) warga desa setempat.

Fenomena aneh itu diketahui keduanya ketika melihat air hujan yang ditampung di dalam ember di cucuran rumah mereka ternyata berwarna tak lazim. Dalam sekejap temuan menghebohkan itupun menyebar ke masyarakat sekitar. Warga yang merasa penasaran pun langsung berduyun-duyun menyerbu rumah tersebut untuk menyaksikan langsung fenomena hujan merah dimaksud.

Pengakuan warga sekitar, kejadian aneh itu baru pertama kali terjadi di daerah tersebut kendatipun akhir-akhir ini hujan lebat disertai angin kencang terus mengguyur kawasan dimaksud.

“Baru kali ini kami melihat air hujan berwarna merah, sebelumnya kejadian seperti ini tidak pernah terjadi,” tutur salah seorang warga yang turut menyaksikan kejadian itu saat ditanyai wartawan.

Kapolsek Sawang, AKP Samsul Anwar yang dihubungi terpisah membenarkan dua rumah di Dusun Pasi Tuan Ilang, Desa Desa Sawang I Kecamatan Sawang, diguyur hujan berwarna merah.

“Benar air hujan di dua rumah itu berwarna merah, tapi bukan hujan darah,” jelasanya singkat.

Untuk diketahui, hujan berwarna merah ini juga pernah tercurah di India pada tahun 2001 lalu. Pada mulanya ilmuwan mengira hujan berwarna merah itu disebabkan oleh pasir gurun, namun para Ilmuwan menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan, unsur merah di dalam air tersebut ternyata adalah sel hidup, namun di ketahui sel itu bukan berasal dari bumi. Contoh air hujan tersebut pernah dibawa untuk diteliti oleh pemerintah India dan ilmuwan. Salah satu ilmuwan independen yang menelitinya adalah Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi.

Mereka mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari penduduk setempat dan mengumpulkan sampel air hujan merah dari wilayah sepanjang 100 km. Awalny mereka mengira bahwa partikel merah di dalam air adalah partikel pasir yang terbawa dari gurun Arab. Karena hal ini pernah terjadi pada Juli 1968 dimana pasir dari gurun sahara terbawa angin hingga menyebabkan hujan merah di Inggris. Namun mereka menemukan bahwa unsur merah di dalam air tersebut bukanlah butiran pasir, melainkan sel-sel yang hidup.

Komposisi sel tersebut terdiri dari 50% Karbon, 45% Oksigen dan 5% unsur lain seperti besi dan sodium, konsisten dengan komponen sel biologi lainnya, dan sel itu juga membelah diri. Sel itu memiliki diameter antara 3-10 mikrometer dengan dinding sel yang tebal dan memiliki variasi nanostruktur didalam membrannya. Namun tidak ada nukleus yang dapat diidentifikasi.(tz)

Massa Aceh Singkil Demo DPRA

Written By T Noval Ariandi on Kamis, 07 Juni 2012 | 05.50

* Terkait Sengketa Lahan dengan PT Ubertraco

BANDA ACEH - Puluhan mahasiswa bersama masyarakat Aceh Singkil, Rabu (6/6) pagi, melancarkan unjuk rasa ke Gedung DPRA. Mereka mendesak DPRA segera turun tangan dalam menyelesaikan permasalahan sengketa tanah Masyarakat Aceh Singkil yang mereka klaim dirampas oleh PT Ubertraco/Nafasindo.

Massa yang tiba di DPRA sekira pukul 10.30 WIB secara bergantian menyuarakan aspirasinya, terkait persoalan sengketa lahan antara warga Aceh Singkil dengan PT Ubertraco.

Tapi sayangnya, setelah beberapa jam massa menumpahkan uneg-unegnya, tak ada seorang pun anggota dewan yang keluar menemui mereka. Bahkan anggota DPRA dari daerah pemilihan (dapil) 7 juga tidak keluar, sehingga pergolakan massa pun muncul. Mereka mendesak masuk ke dalam gedung untuk menemui anggota DPAR. Waktu itulah polisi yang mengamankan aksi itu berusaha menahan demonstran.

Karena massa tetap bersikukuh menemui, sehingga aksi saling dorong pun tak terhindari. Namun, ketegangan itu tidak berlangsung lama, karena Ketua DPRA, Hasbi Abdullah, langsung menemui demonstran.

Menyikapi persoalan sengketa lahan antara Masyarakat Aceh Singkil dengan PT Ubertraco, Ketua DPRA, menyatakan bahwa persoalan itu telah dibicarakan dengan Anggota DPRA Dapil 7. Bahkan dalam waktu dekat, pihaknya akan memanggil pihak-pihak terkait untuk menanyakan sejauh mana penyelesaian yang telah ditempuh.

Koordinator aksi, Jirin mengatakan berbagai upaya telah dilakukan masyarakat Aceh Singkil untuk meminta kembali hak mereka yang telah dirampas oleh PT Ubertraco. Hingga tahapan terakhir berdasarkan rujukan surat Gubernur Aceh Nomor 590/38064 tanggal 26 Desember 2011, permintaan pengamanan dari kepolisian dalam pemasangan tapal batas secara permanen.

Lalu, lanjut Jirin, Kapolda mengeluarkan surat tanggal 02 Januari 2012 yang intinya siap melakukan pengamanan pemasangan tapal batas setelah Pilkada Aceh selesai. Tetapi, kenyataannya sampai saat ini pematokan tapal batas permanen terhadap tapal batas HGU PT Ubertraco tidak kunjung dilakukan.

Ia menuding pihak kepolisian tidak memberi tanggapan terhadap permintaan BPN Aceh tersebut. “Ini tentu patut dipertanyakan ada apa sebenarnya. Kenapa sampai detik ini tapal batas HGU PT Ubertraco tidak kunjung dipatok. Padahal jelas bahwa sengketa lahan itu sudah terbukti penyerobotan dilakukan oleh PT Ubertraco terhadap lahan masyarakat,” ungkap Jirin.(mir)

Internasional

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Search This Blog

World News

“Jikalau sekiranya penduduk-penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya itu. (Surat al-A'raaf: 96) "

Label 3

Label 6

Politik

Label 5

Label 4

News World

« »
« »
« »
Get this widget

Label 2

 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. NewsKu - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger